Bagi saya, kalau sampeyan ditanya kenapa mencintai seseorang, apa alasannya, dan sampeyan bisa menjawab tuntas, berarti sampeyan bukan sedang jatuh cinta. Bukan cinta itu namanya. Itu itung-itungan.  Cinta itu tak pakai alasan.

Sudjiwo Tedjo bilang itulah cinta. Kali ini saya akan menulis tentang cinta, walau bukan seperti cinta di sinetron atau drama korea. Atau cinta menurut raditya dika yang bisa merubah rasa tahi jadi coklat, dan coklat jadi tahi ketika cintanya tidak terbalas. Ini mengenai cinta yang tanpa alasan.

Ketika merasakan cinta maka sebagian otak manusia akan dinonaktifkan, mungkin ini yang disebut bukti bahwa cinta itu buta. Jangan bayangkan film Ada apa dengan Cinta, coba lihat peristiwa lain misalnya tayangan berita kriminal di TV. Saat seorang Ibu yang membela anaknya saat tertangkap polisi karena menjadi gembong curanmor, dia membela habis-habisan walau raungannya tidak bisa menjadi pembelaan di pengadilan. Atau seorang istri korputor yang tetap senyum di depan kamera saat menjenguk suaminya di rutan KPK, syaraf malu mulai melemah. Si Ibu dari curanmor tentu tau anaknya bersalah, tapi tanpa butuh alasan dia tetap membela anaknya. Begitu juga istri si koruptor, sebagian kerja otaknya mungkin sudah dinonaktifkan oleh cinta.

Apa sebegitu “mematikan” kah cinta?

Cinta itu suci, tapi cemar bila kawin -Soe Hok Gie

Soe Hok Gie mungkin benar, alasan lain selain-tanpa-alasan-yang kemudian hari muncul (pasti muncul) akan mencemari cinta.
Kalau saya mencintai laut karena biru, maka akan beda kalau laut menjadi merah. Ah biarlah saya mencintai laut karena laut adalah laut.