Tags

, , ,

Cagar alam adalah kawasan suaka alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tunbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami.

Begitulah Cagar Alam menurut UU No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem.

***

Pulau kecil yang luasnya tidak mencapai 900 ha, tetapi memiliki pesona dan kekayaan alam yang menjadi magnet untuk banyak orang. Ratusan artikel telah mencitrakan kecantikan dari pulau yang berada di sebrang saya pagi ini, di selatan Kabupaten Malang. Tak heran sepertinya melihat perahu nelayan di Pantai Sendang Biru beralih fungsi menjadi penyedia jasa antar jemput dari Pantai Sendang Biru ke Teluk Semut, Pulau Sempu.

Perahu nelayan mengantar 'wisatawan'

Perahu nelayan mengantar ‘wisatawan’ ke Pulau Sempu

***

Pagi ini 31 Agustus 2013 saya memulai hari dengan menumpang mandi di Kantor Resort Konservasi Wilayah Pulau Sempu – Sendang Biru. Beruntung kemarin sore sempat ngobrol dengan salah satu guide di sini, jadi bisa numpang mandi dan sekalian mengurus perizinan untuk menyebrang ke Pulau Sempu nanti.

Setelah selesai dengan prahara mandi, packing, dan perizinan dilanjutkan dengan perburuan sarapan. Makanan di sini terhitung murah, Rp. 5000 bisa makan nasi pecel. Sekelompok om-om masuk ke kedai yang sepi pagi itu, membangkitkan insting saya terhadap om-om *loh?! Iya, ini bukan becanda, karena untuk menyebrang ke Pulau Sempu gak bisa sendirian. Saya gak mampu mau menyewa perahu nelayan Rp. 100k sendirian, dan perjalanan dari Teluk Semut ke Segara Anakan juga gak bisa sendirian, harus dengan guide yang ditarifkan Rp. 100k juga. Nasib solotraveler, dengan sedikit basa-basi, ditambah speak, lalu dicampur bumbu Indomie goreng original saya pun berhasil berkenalan dengan sekelompok om-om itu. Mereka rombongan kantor dari surabaya, survey untuk acara kantor katanya.

***

Gemuruh mesin perahu berbalasan dengan suara ombak. Bapak nelayan nahkoda kami pagi itu, mengantarkan 8 orang rombongan kantor dengan variasi bentuk perut dan betis yang beragam plus satu orang anak muda yang baru cukur kumis dua hari lalu, itu saya. Setelah dua puluh menit  membelah selat kecil di antara sendang biru dan pulau sempu, saya harus berjalan menuju teluk semut. Terlalu dangkal untuk merapatkan perahu ke pesisir. Ah selalu asik untuk basah-basahan, apa lagi di pantai.

Menuju Teluk Semut

Menuju Teluk Semut

Cak Nahkoda dan Om Gendut

Akhirnya pukul 7.30 saya menjejakan kaki di Pulau Sempu, disambut pasir menuju pintu lorong hutan. Perjalanan dimulai, hijau pepohonan di jalur menuju Segara Anakan menggantikan birunya lautan. Suara ombak mulai digantikan dengan suara daun yang bertepuk tertiup angin. Pasir putih yang masih menempel di kaki jatuh ke lantai hutan dengan tanah gembur tertembus akar-akar pohon.

Menuju Segera Anakan

Menuju Segara Anakan

 

Break! Kita istirahat dulu” kata Om Buncit. Oke, setengah jam perjalanan menanjak menurun bikin keringetan. Minum dan mengatur nafas, lalu kami melanjutkan perjalanan. “Ok! Break dulu di sini, ada yang ketinggalan” Om Tinggi mengomandoi tim om-omnya lalu menoleh kebelakang. Om Buncit mandi keringat.

Setelah berkali-kali istirahat, pesta pocary sweat, melewati hutan licin penuh akar, dan menyelip di tebing karang bersama om-om, saya pun bisa melihat Segara Anakan dari balik pohon. Ombak kecil susul menyusul, hamparan air jernih diatas pasir putih, dan karang-karang yang menutupi ‘laut kecil’ ini, Segara Anakan. Senyum saya pun mengembang, lucu rasanya kalau ingat pergi dari bogor ke sini sendirian.

Berjalan di atas pasir putih telanjang dada, lalu lari menceburkan diri ke ‘kolam buatan’ sambil teriak untuk mengkambuhkan amnesia selektif. Melupakan kesibukan dan kepenatan. Hanya mempikirkan apa yang saya lihat: Pesona Segera Anakan dan Om-om yang kegirangan seperti anak kecil yang diberi kembang gula oleh ibunya.

Menempatkan diri di alam, tidur di bantalan pasir dan badan diusap ombak kecil. Kebanyakan orang lupa ketika mereka sedang di alam, mereka tidak menempatkan diri mereka di alam sepenuhnya. Justru masih memikirkan: Foto yang bagus untuk di instagram, facebook atau twitter; Share di Path; atau check ini via foursquare.

Segara Anakan, 'anak' laut yang menenangkan

Segara Anakan, ‘anak’ laut yang menenangkan

***

Di bawah pohon, sambil menahan dingin setelah bermain air saya mengobrol dengan dua orang pemandu. “Bisa dua sampai tiga kali nganter orang ke sini” kata pemandu gondrong. “Harus pakai pemandu, soalnya banyak pengunjung yang bandel. Takutnya ada yang nyasar, buang sampah sembarangan, naik ke karang yang dilarang” kata pemandu yang lain sambil mengepulkan asap rokok ke udara. Obrolan kami terpaling ketika ada monyet ekor panjang yang mencuri roti dari pengunjung lain. Kami tertawa melihat tingkah monyet itu.

Matahari mulai tinggi, pesisir Segera Anakan mulai ramai wisatawan. Mulai dari wisatawan domestik sampai wisatawan asing. Wisatawan dari Pasuruan sampai Australia. Yang bawa tenda sampai bawa tabung gas elpiji. Gak paham lagi. Sabtu pagi yang tenang menjadi rewel.

Tidak semua orang paham dengan ‘gelar’ Cagar Alam yang diberikan pada Pulau Pempu. Saya juga, mungkin. Sampah memenuhi sebagian pesisir Segara Anakan, tempat yang disombongkan sebagai surga tersembunyi. Saya teriaki monyet satu persatu orang yang meninggalkan sampah di sana, tapi cuma di dalam hati saja demi mencegah populasi monyet berlebih di pulau itu.

sampah

***

Perjalanan pulang terasa lebih cepat, pukul 12 siang kurang sedikit saya sudah kembali di Teluk Semut. Menunggu perahu nelayan menjemput dan kembali ke Sendang Biru.

Kembali di Sendang Biru, dengan uang yang utuh karena ongkos ditanggung om-om kantoran dari Surabaya. Hahaha Jadi cuma keluar 30k uang buat ongkos dari malang ke sendang biru, 6k tiket masuk sendang biru, 2k buat mandi dan 10k makan dua kali. Lagi beruntung.

Di Sendang Biru saya langsung mandi, soalnya mau langsung lanjut ke Kota Wisata, Batu. “Un! Saun! Fadhli!” Ada yang manggil saya. Ah tapi gak mungkin ada manggil saya ‘saun’ di sini, siapa yang tau nama panggilan itu di tempat kaya gini, memperkenalkan diri aja enggaki. “Un! Saun! Fadhli! Oy sauuuuun!” Ah suara itu lagi. Saya nengok sambil mengibaskan rambut keriting yang lagi dikeringkan. Dan oh shit men ternyata bener. Erma, temen kampus ada di depan gue. “Anjiiiirrr Mae ko lo ada di sini?” saya kaget. “Elu un! Kenapa bisa ada di sini? Sama siapa lu?” tanya dia balik. “Sendirian gue, ahahahaha” sambil ketawa puas. “Ah serius?!” “Iyalah serius mae!” Akhirnya kita ketawa bareng-bareng.

Setelah ngobrol denga Mae (Baca: Panggilan akrab Erma) saya pamit pergi ke Batu, dia sempet bantu nyari penginapan di sana, tapi gagal karena temannya yang tinggal di Batu lagi di luar kota. “Ah tenang selalu ada jalan untuk traveler haha” saya menenangkan dia dan terutama diri sendiri. “Oke pamit dulu ya, selamat bersenang-senang di Pulau Sempu!” Saya balik badan, menggendong ransel lalu pergi.

“Ahhh sial, jauh-jauh dari Bogor pergi ke Pulau Sempu masih aja ketemu temen. Dunia emang sempit” Kata saya di dalam hati lalu senyum dan ketawa sendiri. Pukul 2 siang perjalanan dilanjutkan ke Batu. Terima kasih Pulau Sempu!

tks

Postingan Sebelumnya Sendang Biru, di Seberang Pulau Sempu