Tags

, , , ,

Butiran pasir berputar bersama ombak dan buih. Aroma laut, tepukan ombak pada perahu -perahu, dan barisan gubuk bambu. Pantai mampu berbahasa,  bahasa tanpa kata, bahasa dengan makna. Sore, Pantai Sendang Biru di selatan kabupaten malang.

***

Setelah perjalanan Bogor-Jakarta-Malang (postingan sebelumnya Tugu, Merdeka, dan Wantukil), saya menarik garis peta ke arah selatan Malang. Perjalanan dari Stasiun Malang saya menempuh rute GadangTurenSendang Biru, dengan menggunakan angkot AG Bis jurusan Turen – dan angkutan umum 3/4 biru ke sendang biru, tapi sayang sore itu angkot biru tidak sampai sendang biru, dan saya meneruskan perjalanan dengan Ojek sampai Sendang Biru. Inilah enaknya solotraveling, ojek bisa jadi kendaraan yang mahal serba bisa kemana saja. Perjalanan membutuhkan waktu 3,5 jam, cukup cepat karena tidak terlalu lama menunggu angkutan dan tidak terkena macet truk pengangkut tebu.

Sempatkanlah untuk mengobrol selama dalam perjalanan. Saya ditawari menginap oleh seorang pensiunan tentara ketika di bis, dia heran kenapa kok saya pergi sendiri dan kenapa ke sempu? sedikit khawatir bapak tua ini pun menyobek koran dan menuliskan nama dan kontaknya, terima kasih pak. Begitu juga di angkot dan ojek, saya berusaha ramah dan tetap menjaga diri, dapatkan info sebanyak-banyaknya dari penduduk lokal dan bicara secukupnya tentang diri sendiri. Kita tidak pernah bisa tau maksud orang hanya melihat dari luarnya dan baru bertemu, buktinya saya sempat dibantu dua pemuda bertato tapi hampir ditipu ibu-ibu penjual kopi. Aneh.

***

Sendang Biru, menghadap Pulau Sempu

Sendang Biru, menghadap Pulau Sempu

Jingga mulai memeluk langit. Sendiri dan jauh dari orang-orang terdekat membuat senja semakin terasa lambat. Melankolik? mungkin. Persoalan semakin banyak, tapi semakin buntu tanpa jawaban. Langit semakin jingga, tapi semakin dekat juga dengan gelap.

Malam itu 30 Agustus 2013, lampu-lampu ragam warna di perahu nelayan semarak di pelabuhan. Pekik pelantang suara menghibur nelayan dengan lagu dangdut, mereka yang lengas oleh air laut dan peluh. Sendang biru, di sebarang Pulau Sempu.

Malam itu saya belum tau mau tidur dimana, ah melangkah saja dulu.
Beruntung, sore tadi saya sempat berbincang dengan penduduk sekitar, dan dapat tempat menginap. Gratis. Kenapa? Rahasia. Tapi anda juga bisa menginap di rumah penduduk dengan bayar, bisa murah atau sangat mahal. Meningkatnya pengunjung ke Wana Wisata Pantai Sendang Biru membuat warga agak komersil, tidak salah asalkan pada batas wajar.

Lalu bagaimana nasib Cagar Alam Pulau Sempu?
Komersialisasi meningkatkan potensi kerusakan Cagar Alam?
Ah apapun, dimanapun, dan bagaimanapun Uang + Keserakahan dan Kelestarian Lingkungan bukan hal yang sejalan.

Postingan selanjutnya Pulau Sempu, Wisata Cagar Alam Semu