Tags

, , , , ,

Matahari pagi itu belum terlalu tinggi, kuningnya masih memantul di jendela kereta yang mulai masuk ke stasiun Kota Malang. Sekarang kereta tidak hanya dipenuhi koper dan ransel saja, perbincangan hangat mulai memenuhi setiap gerbong. Udara dingin pun perlahan pergi dari baju abu-abu tangan panjang yang saya pakai.

Peron kereta kembali bertemu gerbong, masinis menarik tuas rem perlahan membuat penumpang KA Matarmaja Jumat (30/8/2013) menahan rasa ingin turun. Saya? selain menahan rasa ingin turun saya juga menahan rasa lapar, biskuit gandum masih tersisa beberapa, masih cukup untuk hari ini. Kalaupun gak cukup saya masih bisa cukup-cukupin. Maklum saya pergi sendiri dari bogor dengan uang terbatas, gak lebih dari 500 ribu.
Muncul ide: Jualan talas di kota apel pasti laris! Gak ada saingan! dan ga ada juga yang mau beli -_-

DSC00117

Peron bertemu Gerbong KA Matarmaja, setelah perjalanan dari pasar senen (jakarta) sampai ke Malang.

Udara sejuk kota malang mulai menyapa badan saya yang bau apek, apek setelah menggembel dari Bogor, luntang-lantung di Stasiun Pasar Senen, dan meratakan pantat + 17 jam di kursi 6E gerbong 2. Di depan Stasiun Malang saya kebingungan, kebanyakan rencana yang dibuat jadinya gak ada rencana yang bener. Mau ke bromo, batu, pulau sempu, pantai goa cina, atau balik lagi ke bogor terus tidur di kosan? Akhirnya memilih balik ke kosan dan tidur aja -_- …. gak lah!

DSC00118

Stasiun Malang pagi hari, ramai tapi tenang. Beda dengan Stasiun Bogor -_-

Dari stasiun saya jalan kaki ke Alun-alun Tugu, jaraknya cuma beberapa ratus meter. Di tempat yang juga disebut Bundaran ini saya sedikit meluruskan kaki dan bersantai, suasana jam 9 pagi di sana sangat tenang, air mancur yang mengelilingi tugu, tanaman hijau dan bunga dengan embun yang hampir menetes di ujung daun, keluarga yang difoto oleh ayahnya, sekelompok anak muda yang bergantian difoto, dan beberapa pasangan yang sedang ‘memiliki dunia’ berdua saja pagi itu. Semakin kerasa kalau lagi solotraveling, harus biasa ngobrol dengan lampu taman atau foto-ransel-tanpa-orang.

DSC00119

Suasana Alun-alun Tugu Malang, dikelilingi air mancur dan taman.

DSC00122

Yang foto cuma ranselnya, orangnya gak ada yang fotoin. Kasian, sendirian.

Perjalanan pagi itu dilanjutkan ke Alun-alun Merdeka, jalan kaki lagi walau agak jauh. Berbeda dengan Alun-alun Tugu, suasana di Alun-alun Merdeka lebih ramai, banyak pedagang dan orang yang beraktivitas. Setelah berkeliling dan melihat sekitar saya duduk DPR (Dibawah Pohon Rindang), sambil menikmati kopi hangat dan biskuit gandum yang tersisa. Sial, tiba-tiba seorang wanita tua dekil (Wantukil) datang dan maki-maki saya dengan bahasa jawa. Yah mana ngerti! Yang saya inget dia pertama bilang, “bla bla…” eh bentar kata ‘bla’ kita ganti dengan ‘nganu’ biar lebih jawa,  jadi dia bilang “sampean nganu nganu manten nganu nganu sore” abis itu dia bilang, “nganu duit nganu nganu deluwang nganu nganu duit mu!”. Gue bingung, kenapa dia marah-marahnya pakai bahasa jawa! Kan percuma dia marah ke saya kalau saya gak ngerti, makannya bu sebelum marah-marah tanya dulu! biar saya bisa milih bahasanya! -_- eh ini yang gak waras saya atau si wantukil?! akhirnya saya kasih dia uang + ampas kopi, gue tinggalin dia sambil mengutuk dalam hati “NGANUUUUU!!!”

DSC00128

Aktivitas di alun-alun merdeka malang, pedagang, warga sekitar, dan merpati yang terbang di sela ranting.

Bayangan pohon mulai memendek, saya menunggu waktu sholat jumat sambil mengobrol dengan seorang bapak tua dari Kota Pasuruan, ternyata dia sedang kembali menikmati indahnya lensa mata setelah operasi, karena sebelumnya dia tidak bisa melihat karena katarak. Saya jadi menyesal kadang mata ini tidak dijaga, lupa betapa nikmatnya bisa melihat dunia sedangkan ada orang lain yang tidak seberuntung ini.

Tiba-tiba muncul sms dari Erma, temen kampus. Sempet becandaan di twitter kalo lagi di malang, dan dia bilang Nana dan Thony juga lagi di malang (Erma, Thony, dan Nana ini temen di Koran Kampus IPB, hobi mereka emang jalan-jalan). Langsung saya hubungi mereka berdua, awalnya mereka gak ngaku lagi dimana dan gak percaya kalau saya lagi di malang. Dia nantangin buat ketemu di Stasiun Malang, sial kepaksa harus balik lagi kesana, buru-buru saya naik angkot. Untung skill naik angkot saya terlatih di Bogor, Kota Seribu Angkot. Bertemulah dengan dua makhluk yang dekilnya melebihi Wantukil, bedanya mereka berdua gendong ransel. Gak kuat nahan ketawa waktu ketemu mereka, jauh-jauh kabur dari Bogor eh ketemu mereka juga. Mereka 2 bulan lebih dulu kabur dari bogor. Mereka sudah selesai dengan Malang, dan siap-siap pergi ke kota berikutnya. Setelah berkisah, kita berpisah, dadah… celana jangan basah~

DSC00130

Gue, Nana, dan Thony. Kenapa bisa ketemu di Malang? dan kenapa masih aja makan Bakpao!

Mereka pergi ke antah berantah, saya pun memutuskan pergi.
Dengan menggendong ransel hitam butut saya naik angkot menuju terminal Gadang. Tujuan berikutnya adalah Pulau Sempu!

Postingan selanjutnya: Sendang Biru, di Seberang Pulau Sempu

Gak ada jarak yang bisa melebihi jauhnya langkah kaki, walau selangkah