(baca postingan sebelumnya)

29 Agustus 2013
Stasiun Pasar Senen siang itu kering tanahnya, debu mengepul dari telapak kaki para calon penumpang kereta. Antrian tiket di stasiun lumayan penuh, untung saya beli tiket online yang tinggal tukar dan hampir tanpa antrian. Tiket Ps. Senen – Malang sudah di tangan, masih 2,5 jam lagi sebelum keberangkatan kereta Matarmaja pukul 1.40 WIB.

Duduk di bawah pohon sendirian, sambil ketawa sendiri liat tiket. Beneran ini saya pergi sendiri? hahaha Rencana tidur dimana nanti di Malang belum tau, bahkan destinasi juga masih rencana A, B, C, sampai Y. Belum pasti. Siapa bilang google itu bisa menjawab semua? buktinya sampai H min jam keberangkatan masih banyak pertanyaan yang belum kejawab dan beraniin aja buat berangkat. Oh iya, di sini juga saya ketemu kak Yovita dan Kak Della kakak tingkat gue yang mau pergi ke purwokerto. Mereka agak bingung liat saya mirip gembel di Pasar Senen.

Kerumunan di atas peron, menyambut Matarmaja

Kerumunan di atas peron, menyambut Matarmaja

Kereta Matarmaja menuju peron, di sana sudah menunggu berbagai orang dengan berbagai tujuan. Yang menggendong Ransel Carrier mungkin mau ke Gunung Semeru, yang diantar keluarga mungkin mau pergi kuliah, yang membawa banyak barang mungkin hendak pulang kampung, dan cowok ganteng yang gendong ransel butut dan pakai kaos oblong putih mau ke malang dan masih gamang tujuannya, itu saya.

Gerbong 2 kursi 6E, tempat saya 18 jam olah raga pantat sampai ke Kota Apel. Di kursi 6 saya bertemu 3 orang asing, sebut saja mereka: Tentara Batu (TB), Mahasiswa Tangerang  (MT), dan Wong Pasuruan (WP). Sengaja saya gak nanya nama mereka, begitu juga mereka gak tau nama saya. Perjalanan 18 jam mau ngapain aja di kereta? Bapak TB ini ramah dan blak-blakan sekali, kita berempat ngobrolin apa aja. Sebenernya dia lebih banyak monolog sih, soalnya saya cuma bales omongan dia dikit dan lebih banyak ngakak, si MT lebih banyak diem dan jadi bahan ceng-cengan sambil ngangguk canggung. haha Dan si WP lebih tertutup, gak asik dan banyka tidur. Dia lebih milih tidur dibanding ngobrolin tentang urin yang disiram ke mata ternak, naik gunung modal golok + garem, atau tentang cita-cita si MT yang tadinya teguh malah jadi ragu setelah ngobrol dengan orang-orang yang salah. Kasian.

Uniknya naik kereta ekonomi adalah pedagang asongan yang jualan ke dalam gerbong, kita bisa tau atau sekedar menebak sampai kota mana dengan melihat barang dagangannya. Atau dengan mengendus ketek si penjualnya. Pemandangan di luar juga bermacam-macam, mulai dari sawah luas yang menguning, lampu putih yang berbaris di ladang gelap, atau jurang-jurang di bawah rel.

No friends and no plan. New friends and new place.

Kalimat itu jadi motivasi selama di kereta, selain itu ada juga  motivasi untuk mencari kerang ajaib.

Saya tau, obrolan di matarmaja ini seperti kopi di ujung malam. Hanya penghangat sambil menunggu pagi.

Postingan Selanjutnya: Malang Day 1: Tugu, Merdeka, dan Wantukil