Tags

,

Setiap tahun di tanggal yang sama, 17 agustus, satu kata yang terus-terusan diulang, merdeka. Kata ‘merdeka’ sekarang gampang banget dilempar dari dalem mulut. Tapi makna dari kata ‘merdeka’ sendiri udah lupa.

25 Juni 2013 kemarin gue mengunjungi Suku Baduy, di kabupaten Lebak Prov. Banten. Unik dan tentram! dua kata yang gue rasain selama di sana. Suku Baduy ini ada dua macem, baduy dalam dan baduy luar. Kalau baduy dalam pakaiannya serba item, baduy dalam pakaiannya serba item putih. Suku baduy ini menghuni beberapa desa, Cikertawarna, Cikeusik, Cibeo dan desa-desa lainnya sesuai selera anda. Perjalanan ke badui juga mudah, gak perlu bikin pakai passport atau join foursquare kok. Bisa pakai kendaraan pribadi, angkutan umum, atau kereta.

Tokoh utamanya:

  • Salman: Mahasiswa Biologi asal padang, gembul tapi gak pernah ngaku.
  • Rina: Mahasiswi Biologi asal bandung, masih diragukan apakah mahasiswi/a?
  • Tiara: Mahasiswa Biologi asal bogor, cekatan dan gesit. Semua pakai Quick.
  • Nana: Mahasiswa Biologi juga, pinter tawar menawar. Tangguh di pasar.
  • Yoga: Mahasiswa Biologi asal bogor, pecinta alam, alumni GEMPAS, banyak gunung udah didaki, yang kembar juga udah, bisa jadi.
  • Roy: Mahasiswa Manajemen, juga adiknya yoga.
  • Septo: Mahasiswa komunikasi, hobi fotografi dan doyan nyemilin janur.
  • Egales kakak tingkat gue dan temannya orang lebak, mereka yang berbaik hati nyiapin transport.
  • Rombongan Pecinta Alam SMAN 9 Bogor, GEMPAS, ada Idoy dan Abo Alumni gempas, Bunga, serta juniornya yang beruntung gak gue sebutin namanya di sini.
  • dan Gue: Mahasiswa biologi syariah, jurusan baru.

24 agustus malam, gue janji ketemuan di kampus dengan Salman, Rina, dan Tiara. Lanjut naik angkot ke rumah yoga, ketemu Nana di sana, juga yang lainnya. Packing dan logistik siap. Jam 3 malam kita siap-siap, makan mie rebus bareng-bareng, terus gue ngosongin perut biar gak pengen pup di jalan. 4.30 hampir ketinggalan kereta ekonomi ke tanah abang, gak cukup lari-lari bodoh jam segitu di dalem kereta gak ada bedanya dengan kaleng kue nastar lebaran, penuh. Yang paling gak banget, kayaknya ada tante-tante yang grepein gue. Defak!

Dari tanah abang, lanjut ke rangkas. Semangat yang berlebih bikin kita salah masuk kereta, untung keretanya gak jalan. Akhirnya nungguin kereta dateng, ngegembel di pinggiran rel. Perjalanan dilanjutkan, kereta yang kita naiki lumayan… lumayan… yah pokoknya lumayan lah buat leher keram. Jam 10 kita sudah sampai di stasiun rangkas. Jalan kaki dari stasiun ke alun-alun rangkas, dengan bawaan backpack dan bergerombol rombongan kami terus-terusan ditawarin kendaraan buat ke baduy, kami tolak karena ada kendaraan super kece sudah menunggu…

KITA NAIK TRUK SATPOL PP!
Iya kita naik truk satpol pp, yang lazimnya buat ngangkut waria yang ketangkep pas razia. Dengan gagah gemulai gue naik truk Satpol PP.

DSC00057

Truk Satpol PP yang gagah gemulai

Matahari di desa ciboleger tepat di atas kepala, rombongan datang. Turun dari truk satpol pp ini sensansinya sangat gereget dan ngecrit. Kita ketemu Puun Daina, puun itu semacam ketua desa di sana. Perjalanan selanjutnya jalan kaki dari ciboleger ke cibeo, kita dipandu Kang Haldi, dia suku baduy yang tinggal di cibeo.

Perjalanan gak terlalu lama, sekitar 4-5 jam. Bisa lebih cepet malah, kita santai aja kayak di lantai. Sepanjang perjalanan kita becanda, ngobrol, foto-foto di danau, ngukur ukuran betis. Naik turun bukit bikin keseksian gue meningkat, gue jadi kurus padahal sebelumnya gue kurus.

DSC00034

Kang Haldi yang memandu kami sama sekali gak keliatan capek, naik turun 5-8 bukit udah jadi kegitan rutin dia. Mau mandi 3 bukit, ke dapur 4 bukit, ke kebun 5 bukit, ke bioskop 6 bukit, mall 7 bukit, itu juga kalau ada. Sepanjang perjalanan pemandangan bukit hijau berbaris di kiri dan kanan, suara serangga berlomba-lomba di balik pohon dan semak. Banyak sumber air dan sungai kecil yang lumayan bersih, jadi gak usah takut kehabisan bekal air. Kalau ngantuk atau lemas, bisa cuci muka jadi seger lagi deh. Sebelum sampai cibeo beberapa sudah dilewati, kita juga melewati lumbung padi atau leuit penduduk sana. Bentuknya unik, 2m persegi menyerupai rumah. Di sini setiap wilayah ada fungsinya, ada yang khusus pemukiman, khusus kebun, khusus lumbung, dan tempat yang disucikan.

DSC00051

Matahari sinarnya sudah lembut, jam 5 kita sampai di cibeo. Warga di sana ramah, walau terkendala komunikasi tapi senyuman adalah bahasa yang dimengerti semua manusia. Menyebrangi sungai jernih dengan jembatan dari bambu dan sampailah di pemukiman orang cibeo. Rumah dari kayu dan anyaman bambu tradisional. Gue, nana, tiara, rina, salman, dan ega tidur di rumah kang haldi, sedangkan yoga dan yang lainnya tidur di rumah lain.

Sebelum magrib gue dan pejantan lainnya mandi di sungai. Kalap setelah perjalanan kereta ekonomi toples nastar, truk satpol pp banci, dan jalan kaki di php-in kang haldi katanya “sebentar lagi nyampe”, begitu liat sungai jernih langsung pada nyebur cuma pake celana dalem. Begonya kita berenang di tempat jebakan ikan, dan kita tahu itu soalnya udah nanya ke anak kecil yang di sungai juga. Bodo amat! seger haha

Malamnya sama sekali gak ngira bakal dingin! Gue gak bawa sleeping bag, ternyata nana, rina, tiara, dan salman juga gak bawa. Entah kenapa gue tersirat untuk nyelipin kaki gue ke pantat salman biar anget, tapi sulit. Akhirnya gue olesin minyak kayu putih ke kaki, tapi gak ngaruh. Angin malah terus masuk dari selah-selah pintu, kaki gue beku. Jam 3 pagi alarm hp si salman bunyi, bodoh, jelas di badui dalam barang elektronik dilarang. Untung gak kenapa-napa, cuma gara-gara itu gue cuma tidur ayam sampe pagi datang.

DSC00040

Mentari menyiram hangat dari barat, ayam berkokok, rina nungging nahan dingin, tiara nana rebutan selimut, gue masih aja kepikiran pantat salman yang anget di kaki. Kita semua bangun, cuci muka ke sungai, balik ke rumah kang haldi buat sarapan dan ngobrol-ngobrol dengan dia, kebetulan ada dua orang baduy lain juga yang datang ke rumah kang haldi buat jualan kerajinan tangan. Mereka ramah, tapi elegan dan jaga jarak. Maksudnya gak seperti pelayan yang ramahnya dibuat-buat.  Malah beberapa warga ada yang tertutup dan pemalu, anak kecil yang gue kasih permen contohnya. Kerennya anak kecil di sini udah pada megang golok dari orok, mereka belajar menguasai diri dan mendapatkan kepercayaan. Padahal anak kecil di kota, megang pistol mainan aja udah perang antar kampung.

adad

Goloh di tangan bocah segede ini. (Foto: Septo)

Betapa sederhana dan merdekanya hidup mereka. Tidak tergantung dengan gadget asal korea, televisi dengan tontonan tukang bubur naik gunung (bayangin deh hiking bawa gerobak), atau tergantung dengan produk-produk impor lainnya.

Anak kecil mainan-mainan dengan bambu, malamnya kunang-kunang menjadi lampu hias di pepohonan, bunyi gemericik air dari pancuran masuk ke sela-sela anyaman bambu rumah sederhana yang sangat nyaman, perapian di dalam rumah memberi kehangatan lembut, sekaan gue gak punya rasa khawatir dari apapun waktu tinggal di tempat itu. Kemerdekaan?

DSC00045

bad_uy

 

 telkomsel.com/nekadtraveler

tsel.me/TVCNekadTraveler