Tags

, , , ,

Senja tadi awan jingga seperti jeruk, tidak ada awan mendung yang saya khawatirkan. Perjalanan pulang tidak akan dikejar-kejar hujan, sepertinya. Lelah setelah berkebun bercampur rasa takut dan kesal. Bukan takut lahan gagal. Bukan juga kesal lahan belum juga selesai tanam. Ada hal lain.

Ada petani yang saya temui di tempat saya berkebun. Dia itu gelas yang penuh. Waktu dia lihat buku pertanian punya yoga, dia bilang hasil dari buku itu kurang bagus teknik yang dia tahu dari lapang hasil dari warisan, kira-kira, dan insting lebih baik. Kira-kira begitulah yang dia bilang.
Saya tidak menyalahkan pernyataan dia, mungkin saja ada benarnya. Saya juga tidak menganggap buku itu kitab suci yang memiliki kebenaran hakiki. Tapi saya khawatir kalau Indonesia punya banyak petani seperti dia. Tidak bisa menerima perkembangan zaman, padahal ilmu pengetahuan terus berkembang, padahal pertanian terus berkembang. Saya yakin banyak sekali teknologi pertanian yang mutakhir dimiliki Indonesia. Tapi apa gunanya kalau yang berkerah tidak pernah bisa selaras dengan mereka yang di ladang. Penyuluh pertanian sangat diperlukan, ah semoga mahasiswa komunikasi ada yang “rela” jadi penyuluh ketimbang jadi pekerja media, entertainer, artist, model mungkin.

Rasa takut saya semakin menjadi ketika ingat perdagangan bebas, barang impor, dan negara-negara dengan teknologi pertanian yang maju. Sebut saja thailand. Mereka sudah lari kencang tentang pertanian, terutama holtikultur. Jadi apa kalau petani kita masih jalan santai dengan pengetahuan kolotnya? Ya saya yakin, ada banyak juga petani yang sudah maju. Bahkan hidupnya sejahtera. Sekarang hanya bagaimana mulai menambah jumlah petani maju dan menghapus petani kolot. Tentu bukan dengan menggusur lahannya, tapi menggusur pola pikirnya yang tidak mau maju.