Slogan, Jargon, dan Lip Service

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan.  Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya”. –Soe Hok Gie

Kutipan dari Soe Hok Gie, yang bukunya belum sampai setengahnya sempat saya baca. Kalimat di atas tercetak dalam Kompas,14 September 1967. Sebagai sedikit pengantar sebelum saya studi lapang nanti, yah studi lapang di departemen Biologi dilakukan di akhir semester, di bulan Juli nanti. Ada benarnya, bahkan setiap hal (bukan hanya studi) butuh pengenelan objek untuk mendatangkan cinta. Bukan slogan atau jargon-jargon yang bosan saya dengar, andai kuping ini punya lambung sudah kumuntahkan jargon-jargon yang bahkan tidak bersari itu. 

Bagaimana bisa mencintai laut tanpa mengenal ombak, pasir, karang, dan rasa airnya yang asin. Bagaimana bisa mencintai  gunung tanpa mengenal lembah, hutan, danau, sungai, dan hawa dingin di puncaknya. Bagaimana bisa mencintai sesuatu hanya dengan slogan-slogan yang datang dari lidah-lidah penuh birahi yang hanya pandai melayani lubang telinga?

Advertisements

2 thoughts on “Slogan, Jargon, dan Lip Service

Diskusi yuk

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s