Tags

,

Hari ketiga di jogja, setelah perjalanan dari Bogor yang random, melewati jalan daendles, ke UGM, malioboro dan sempat kehilangan jejak Angga di toko batik. Kami sempat pura-pura panik tapi gagal, akhirnya kembali fokus ke toko batik dan liat-liat souvenir. Yah di hari ketiga ini kami bukan di perkotaan Jogja lagi, tepat lewat tengah  malam tadi kami sampai di Gunung Kidul. Lupa tepatnya dimana entah Wonosari atau nutrisari atau apalah entah, yang pasti kami disambut di sebuah rumah sederhana dengan sebuah mesjid kecil tepat didepannya. Ini tempat tinggal mbahnya erma.

***

Suara adzan memasuki ruangan depan tempat kami menumpang tidur, beberapa dari kami sudah terjaga lebih dulu. Beberapa menunaikan ibadah, beberapa pergi mandi, beberapa masih sibuk dengan bunga tidurnya. “Ayo liat sunrise di pantai! Siap-siap berangkat” ajak Erma antusias. Hampir-hampir gelap usai, kami bergegas pergi menuju pesisir Gunung Kidul. Mobil Granmax kembali melaju menyapu kabut sepanjang jalan, berlomba dengan semburat merah di sebelah timur yang hampir menyembul. Sayangnya melihat sunrise dari pantai selatan harus dianulir, karena sejadi-jadinya semburat merah lebih dulu muncul di tengah perjalanan diantara ladang-ladang petani dan hutan-hutan jati yang tidak terurus. Fajar terbit di 26 Desember 2012. Padahal perjalanan sedikit lagi, Thony memacu Granmaxnya yg kencang meliuk mirip messi mengejar rekor. Perbukitan karst dan ladang padi dibelah jalan aspal mulus, hampir sampai di pesisir.

Matahari terbit di gunung kidul

***

Pantai sepanjang di pagi hari

Matahari belum tinggi, kami sudah sampai di Pantai Sepanjang! Ini jelas super duper mega awesome! Gue takjub dengan hamparan pasir putih, ombak menari-nari seakan merayu gue untuk lari ke air jernih dan bermain di atas karang yang ditumbuhi tumbuhan ini padang lamun mungkin, tumbuhan ekosistem perairan air laut dangkal.  Gak ada rasa kecewa sedikitpun walau kehilangan sunrise, beberapa mengambil foto, beberapa lari di atas pasir, sementara gue malah berusaha nahan kencing.

Hamparan pesisir pantai drini dari atas pulau kecil di seberangnya.
(Dokumentasi oleh Angga, dan hampir semua foto di postingan jogja ini dari angga)

Belum puas rasanya di Pantai Sepanjang, jarum panjang pun belum menegaskan jam 7 tepat. Kami pergi mencari pantai lain, dan jatuh ke pilihan yang tepat “Pantai Drini”. Di pantai drini ini berbeda dengan pantai sepanjang yang memiliki padang lamun, di pantai drini ada Pulau kecil yang bisa disebrangi dengan jalan kaki melewati ‘selat’ kecil dengan batu karang. Sampai di seberang masih perlu menaiki tangga buatan dari kayu lalu mendaki sedikit ke atas pulau dan….. wihiw! pemandangan yang awesome bisa kita lihat dari atas pulau, hamparan biru samudra di laut selatan bagai saphire mengkilat memantulkan cahaya matahari pagi, atau permadani hijau yang membalut pesisir pantai drini, dan nelayan yang mendorong kapalnya ke darat membawa hasil laut tangkapannya. Suasana jadi kapiran, Thony teriak senang tapi gak jelas semacam keledai batal dikebiri, Angga sibuk dengan insting fotografernya memfoto dan merekam keindahan Pantai Drini, yang lain ikut memfoto dengan kameranya mencoba peruntungan jadi fotografer, sejurus kemudian Jihad sudah ada di atas-mercusuar modern sederhana dari sebatang tiang baja besar dan lampu sorot- dibagian atas hanya cukup maksimal dua orang. Dia turun dan gue gantian mencoba, tapi belum sampai puncak gue memutuskan untuk turun karena angin semakin kencang badan gue yang kurus mungkin bisa terbang tertiup sampai Australia.

Kembali ke pesisir pantai drini, hampir kuyup setengah badan. Ini keren, melihat arus air yang masuk ke ‘selat’ lalu keluar diantara pulau kecil dan pesisir. Airnya jernih sehingga ada ikan yang bisa terlihat dari permukaan air yang tergurat arus. Puas hampir satu jam di Pantai Drini kami melanjutkan ke pantai berikutnya, entah pantai apa belum ditentukan karena bukan kami yang memilih pantai tapi pantai yang memilih kami.

Pantai Siung, kami masuk dan memarkirkan Granmax di tempat yang sudah dikelola penduduk setempat. Dari tempat gue turun kayaknya gak ada yang kelihatan istimewa dari pantai ini. Gerobak tukang bakso tusuk lebih menarik perhatian, 2000 rupiah ditukar dengan 4 biji bakso. Habis 4 biji bakso, gue menyusul yang lain ke bagian kanan pantai. Bebatuan besar berkarang dengan dengan air menyelinap diantar masuk ombak. Ini keren! baru beberapa melangkah masuk diantara bebatuan besar itu punggung gue nyangkut di permukaaan tajam batu karang besar, terlalu sibuk dengan rasa takjub. Gak cukup rasanya kalau cuma main dengan bebetuan karang, dan para pejantan tampan mencelupkan diri ke air. Walaupun lebih banyak batu karang dari pada pasir dibawah air. Seru! ada yang berdarah, ada yang lecet-lecet seksi, ada thony yang nyelem dan kacamatanya sempat hilang, atau angga yang jadi hamburger dilapisi rumput laut, dan jihad yang terobsesi snorkling. Gue? gue berusaha menenangkan para wanita yang kaget lihat rambut keriting gue yang basah dan sekilas gue jadi mirip Nick Jonas. Oh Fuck.

bebatuan besar di pantai siung

main air diantara batu karang, air jernih dan rumput laut. nana yang foto jadi gak ikutan ke foto deh. yaiyalah

menunggu ombak lalu snorkling sejadi-jadinya

snorkling sejadi-jadinya. diperagakan oleh vokalis band apatis, jihad.

Berbaring di atas pasir disapa ombak benar-benar sensasi yang berbeda, setelah meniru jihad snorkling menantang ombak. Ada saja ide dari orang ini, dan memang seru. Sedang nikmatnya berbaring ad tiga hal yang menggangu, satu sinar matahari, dua anak-anak kecil yang entah minta datang dari batau karang mungkin, dan terakhir erma yang datang menjemput karena yang lain pergi ke atas tebing siung. Baiklah gue, angga dan jihad mengakhiri tidur bersama kami. Kami berjalan menuju tebing siung, tapi angga batal dan memilih lanjut tidur di atas pasir kembali.

 photo IMG_0586_zps358efb87.jpg

diatas tebing siung

turun dari bukit siung

turun dari tebing siung

 photo pantaisiung_zpsf6bff638.jpg

siung dari atas

Tidak terlalu tinggi untuk ke atas bukit dan mencapai tebing siung. Hanya sedikit mendaki, melewati jalan setapak dan angin dari laut yang menyisir rambut. Kaki mulai agak gemetar waktu menyebrang di jalan setapak menuju ujung tepian tebing siung yang menjorok ke laut. Tingginya belasan meter mungkin. Pemandangan indah terlihat dari atas sini, tapi berbeda dengan sensasi pemandangan dari atas pulau drini karena satu level diatas lebih menegangkan. Tanah yang bisa kapan saja longsor atau membuat kami terpeleset jatuh ke laut untung-untung tidak menghantam batu karang yang mendominasi di bawah. Thony kembali kebingungan mengekspresikan kesenangannya, bersyukur sudah, berteriak sudah, sejadi-jadinya dia keluarkan suara aneh mirip lumba-lumba mencoba seriosa. Dari atas terlihat perbukitan kars dibalut hijau pepohonan, lereng mengantar ke pesisir, hamparan pasir dihiasi ornamen batu karang raksasa dan perahu nelayan yang tak pergi melaut, lautan biru dan tentu ombak yang pecah menabrak bebatuan dibawah tebing.

dari atas tebing, ombak pecah dan lautan biru

Ekspedisi di Kota Sultan ini semakin seru saja.

Bersambung…