Tags

, , , , ,

Bebas Tidak Bablas

Merdeka melambangkan kebebasan, menurut saya pemahaman itu memicu kebablasan. Karena gak semua hal bisa bebas, tiap manusia punya batasan oleh aturan. Aturan Agama, Hukum, Norma, Adat, dan lain-lainnya sesuai selera. Setiap orang terbatas dengan aturan-aturan apa saja yang telah dianugrahkan kepada mereka agar tidak “kebablasan”.
Mungkin saja kalau memang ingin merdeka yang benar-benar bebas, mungkin sudah ada pernikahan sesama jenis dilangsungkan di Indonesia. BUKAN! saya bukan kaum homoseksual. Tapi buka mata, keberadaan mereka itu memang ada di Indonesia. Tapi mereka tetap merdeka di Indonesia, hanya saja di bawah aturan hukum, agama, norma, dan adat mereka dibatasi. Biar tidak “bablas” kan…

Itu sedikit hal yang menggelitik untuk saya sampaikan, karena kemarin tepatnya 17 agustus 2012 tepat 67 tahun Indonesia merasakan kemerdekaannya.

***

Kemaluan Orang Indonesia

Di sini saya tidak bermaksud membanggakan kemaluan orang jepang dan meremehkan kemaluan orang Indonesia. Saya yakin masih banyak orang Indonesia yang menggunakan kemaluannya dengan benar. Di agama saya bahkan menyatakan Malu adalah sebagian dari iman“, dan agama saya ini katanya mayoritas di Indonesia.

Terlalu banyak malu yang tidak penting, malu bertanya karena takut dianggap bodoh, malu berteman karena gengsi, malu menyentuh dunia luar  karena merasa elit, malu bicara padahal ucapannya bisa bermanfaat.
Terlalu banyak juga yang lupa untuk malu, bahkan tidak punya kemaluan. Itu lebih gawat. Apa bisa dibilang kurang beriman orang seperti itu di agama saya?

***

Dilain sisi…

Pada zaman bakufu di jepang ada adat Seppuku atau lebih kita tahu Harakiri.
Seorang yang gagal akan merobek perutnya bukan hanya untuk mengeluarkan ususnya tapi juga untuk memulihkan nama mereka setelah kegagalan.
Naoto Kan mundur dari jabatan Perdana Menteri Jepang. Dia mundur pada Jumat 26 Agustus 2011, bukan pada zaman bakufu. Andai saja dia hidup dan gagal pada jaman itu, ususnya telah ramai dalam pesta lalat.

Entah apa penyebab mereka harakiri atau mengundurkan diri. mungkin mereka malu, atau untuk nama baik, atau demi kebaikan bersama?

***

Waktu itu…

Di Indonesia terakhir kali saya dengar ada yang mengundurkan itu Menteri Kesehatan RI Endang Rahayu Sedyaningsih pada tanggal 26 april 2012. Dikarenakan beliau terkena kanker paru-paru, semoga kesehatan ibu mantan menteri membaik.

Kembali ke masa lalu… 21 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri.  Setelah “diminta” oleh massa yang berpesta di depan gedung DPR/MPR.

Kembali lebih jauh sebelum saya lahir, 20 Juli 1956. Ketika Dwitunggal menjadi Dwitanggal.
Puncak dari perpecahan Soekarno dan Hatta, pertentangan antara Demokrasi Terpimpin milik Soekarno dan sistem multipartai & demokrasi parlementer milik Hatta. Pada tanggal itu Hatta melayangkan surat ke DPR.

WPAP untuk Bapak Bangsa, Bung Hatta

Isi suratnya
“…Setelah DPR yang dipilih rakyat mulai bekerja dan Konstituante menurut pilihan rakyat sudah tersusun, sudah tiba waktunya bagi saya untuk mengundurkan diri sebagai wakil presiden.”

Mereka mundur dengan alasan, entah terpaksa, keadaan, atau kemauan sendiri.

***

Sekarang…

Sudah banyak orang yang kehilangan kemaluannya di Negeri ini. Mereka tidak malu jadi koruptor, mereka tidak malu menempelkan foto mereka di pinggiran jalan beserta atribut partainya, mereka tidak takut akan malu nantinya bila janji yang mereka katakan di Media tidak ditepati, mereka tidak malu saling melempar kesalahan padahal rakyat menunggu mereka yang berjiwa besar, mereka tidak malu padahal dia tahu ada tuhan yang maha mengetahui.

Tidak perlu lah kalian terkena kanker paru-paru.

Tidak perlu lah kalian menunggu gedung DPR/MPR itu disemuti massa.

Tidak perlu lah kalian berhayal bisa menjadi sama seperti Hatta seorang bapak bangsa, tidak mungkin.

Tidak perlu lah kalian merobek perut dan mengeluarkan usus kalian demi nama baik kalian di hadapan rakyat.

Tidak perlu lah kalian menjual atribut agama agar logika saya yang rendah ilmu agamanya bisa dipelintir .

Kalian hanya perlu MALU

**catatan: saya kira pembaca cukup mengerti siapa “kalian” yang saya maksud