Hujan adalah kejadian biasa dibalik penciptaanya yang luar biasa. Hanyalah jatuhnya titik-titik air dari langit kelabu, jatuh dipeluk bumi seakan rindu pada air yang pergi lama dalam petualang. Tidak ada yang lebih mesra lagi dari ikatan bumi dan air.

Mengingat hujan, waktu kecil saya selalu senang dengan aroma tanah saat hujan baru mulai turun. Di atas kursi melempar perhatian keluar jendela, melihat titik hujan jatuh diatas permukaan kolam ikan membentuk gelombang badai kecil-kecilan. Anak-anak berlarian di jalan, mungkin hujan ini hiburan yang selalu mereka tunggu kedatangannya. Hujan yang airnya membuat kapal kertas atau sendal jepit mereka saling susul-menyusul berkelok di saliran air yang bersih di kampung ku. Saya pun kadang ikut tertawa bersama mereka di bawah hujan, jika ibu sedang lengah. hehe maklum hujan sering membuat saya sakit.

Begitu indahnya hujan di masa kecil. Terjebak hujan saat di warung saat membeli bawang, hujan bukan menjadi masalah walau tidak membawa payung. Ikatkan kantung plastik di kepala, atau “payung” dari daun pisang membuat perjalanan menghadapi hujan lebih seru. Benturan tetesan hujan yang menabrak kulit, aliran air melewati selah kaki diatas jalan, gemetar dingin yang terjawab hangatnya handuk sesampai di rumah.

Waktu terus berlalu

Hujan pun masih menjadi hujan, dengan penciptaanya yang luar biasa. Tapi aku  telah dirubah oleh waktu.

Pernahkah mengeluh saat hujan?

Saat akan pergi lalu hujan?

Saat jemuran yang diangkat lalu hujan?

Saat kendaraan masih bersih terkena becek hujan?

Saat kemeja rapih yang kita kenakan basah kuyup?

Saat dingin dan flu karena hujan?

Beda masa beda rasa.

Padahal hujan masih sama, hanya kita yang berubah. Saya lupa kapan terakhir kali saya menikmati hujan, milyaran tetes-tetes hujan yang terjatuh itu tidak pergi dari mata ini tapi pergi dari fikiran ini. Fikiran ini terlalu mencari hal lain untuk mencari keindahan dan kesenangan, lupa bahwa sebenarnya rasa senang itu ada di dalam diri sendiri. Bukan dari orang lain, barang lain atau tempat lain.

Saya pun ingin kembali menikmati hujan-hujan yang datang dalam hidup saya.

Tik tik tik hujan turun dalam selokan
Tempatnya itik berenang-renang
Bersenda gurau meyelam-nyelam
Karena hujan berenang-renang

“Tik Tik TIk Bunyi Hujan…” – Adhitia Sofyan (cover)