Tags

, , , , , , ,

Semoga saya bisa menahan rasa geram saya di postingan ini.
pulau jawa, pulau padi, sejarah pulau jawa, arti pulau jawa

Djawa Dwipa yang artinya Pulau Padi

Pulau Jawa

JawaDwipa berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “Pulau Padi”, yah di pulau ini lah Pak Takian tetangga saya dilahirkan mungkin mati pun di pulau ini. Selama hidup di Pulau Padi ini nasi adalah makanan pokoknya, bukan roti, cracker, atau pasta. “Buat apa makan itu? biar bule-bule saja yang telan makanan mereka. Wong saya hidup di Pulau Padi, masa gak makan nasi” Omongan Pak Takian dengan ringan.

Pernah dengar suara Tukul di televisi yang menari di telinga Rakyat Indonesia, “Sudah ganti makan mu?”

Sudah ganti makan mu tanya Tukul. Takian yang usianya sudah 50 tahun tidak pernah berfikir untuk mengganti makannya dengan selain nasi. Mengurus kebun singkong pun dia panen untuk membeli nasi, yah memang sebagian dimakan. Tapi tujuan akhirnya tetap nasi. Lalu mengapa si Tukul tetap bernyanyi? apakah suaranya membuat orang mual makan nasi? atau tertarik dengan kata diversifikasi? Ah Pak Takian tak mengerti, yang dia tahu cari nasi mengkayuh beca bertulang besi.

Waktu berlalu

Pak Takian dengar di berita. Pulau Jawa jadi pulau terpadat di nusantara. Pembangunan tak merata. Banjir di Ibu Kota. Rakyat miskin semakin menderita. Politikus berebut tahta. Ibu membunuh balita. Terpotong iklan nyanyian tukul, “sudah ganti makan mu?” Ah sepertinya suara di TV warteg itu tak punya kuasa, takian tetap melahap nasi sambil menunggu berita. Harapnya sebuah kabar baik yang datang untuk negeri ini. Sudah bosan dengan berita politikus atau selebritis, “apa pentingnya tahu mereka?” keluhnya tertahan di dada.

Uang 4000 rupiah tersisa, 2012 sekarang tidak banyak lagi penumpang becak . Motor Jepang, China, India mudah di dapat dan lebih cepat. Modern katanya. Takian tua bukan tak percaya dengan rentenir yang menawarkan kredit motor. Ngojeg lebih untung rayunya, tukang becak dan petani itu percaya hal tersebut, hanya ia lebih percaya kepada – Nya. “masalah rizki biar Tuhan yang atur” doanya menghibur diri.

Nasi sudah menjadi bubur

Dulu Takian kecil pernah diajarkan pepatah diatas saat masih di sekolah dasar, walau akhirnya ia putus sekolah. Nasi yang sudah menjadi bubur tak akan kembali menjadi nasi. Lalu bagaimana nasib Pak Takian? Lahan singkong yang dia rawat milik juragan tanah sekarang sudah di jual. Dengar-dengar Mal atau Swalayan akan menancapkan taringnya di situ. Modern katanya. Kebun singkong seperti bubur, tanahnya dikeruk bumbu beton diaduk.

Dimana TUKUL?

Takian tak mau terlalu erat memeluk istri dan anaknya yang sedih, dia memilih untuk lebih erat memeluk kepercayaannya. Siapa lagi yang lebih pantas untuk dipeluk selain Dia yang maha pengasih.

Takian ingat kembali dengan nyanyian Tukul di warteg itu, “sudah ganti makan mu?”

“Haha… Tukul kamu cuma jadi bintang iklan saja. Tahu tidak pulau padi ini bukan saja kehilangan padinya, kebun singkong pun sekarang sudah berganti. Tahu tidak? Pemerintah suruh kita ganti makan nasi, tapi dia ganti lahan petani. Sudah ganti lahan mu? hahahaha” andai saja dia bisa berbincang dengan tukul milyader ndeso itu. Saya hanya  tertawa untuk menyembunyikan geram dalam sukma.

Ketika diversifikasi dikampanyekan besar-besaran, sebuah ironi jika lahan-lahan pertanian justru dikonversi menjadi lahan nonpertanian secara besar-besaran. Apa daya potensi bila tak bergerak, air terjun berenergi-potensial tinggi pun hanya akan jadi genangan yang tak mampu menggerakan turbin bila tidak bergerak. Begitu juga potensi pertanian tropika di Indonesia, harus bergerak!

Sekarang mana pertanyaan yang lebih lucu:

“sudah ganti makan mu?” atau “sudah ganti lahan mu?”

http://repository.ipb.ac.id/ http://humas-protokoler.ipb.ac.id/