Sore ini saya melepas lelah di tempat baru, ruang kamar yang luasnya hanya 2 x 2.5 meter. Ukuran yang normal untuk ukuran kosan yang sederhana. Cat putih pucat ditimpa lampu kamar 30 watt, suasana kamar yang penuh dengan barang bawaan dari asrama, dan wangi asing yang tidak bau dan tidak sedap hanya belum dapat diejah oleh hidung ku.

Hey hidung, kita sudah pindah! Kita bukan lagi di asrama. Tempat itu sudah kita tinggalkan, tempat yang dulu jua pernah kau cium asing baunya. Bau asrama asing tak seperti wangi rumah, wangi campuran dari keringat adik selepas bersepeda, kakak yang pulang dari poliklinik dengan bau khas medik, ibu yang entah wangi apa ku tak tahu karena sudah tercampur oleh bau anak-anak SD yang dia ajar di kampung sebelah, wangi ayah yang menggunakan parfum-yang-dibelikan-ibu sebelum dan sesudah bekerja, wangi parfumnya tak hilang hanya bertambah bau asap rokoknya. Bau mereka tak asing oleh mu hidung? Yah mereka keluarga ku.

Apa kau kaget hidung? Sekarang kau mencium bau asing lagi.Kenapa hidung? Mungkin kalau kau dapat mejawab kau akan jawab, “Wangi asrama sudah tak asing lagi! Wangi asrama tak sama dengan wangi rumah, tapi saya menemukan kombinasi yang hebat di sana.” Dan mungkin kalau kau bisa bertanya kau akan bertanya, “Wangi apa ini? Ini asing! Ini bukan rumah dan bukan pula asrama. Dimana kita?”. Saya hanya bisa menjawab,”Kau pasti akan terbiasa, kau hanya perlu menikmatinya. Sekarang kita semakin sadar bahwa hidup itu dinamis, setiap hal akan berganti, berubah, bertumbuh, hilang, datang, dan pergi.”

Kehidupan itu tidak abadi, hanya perubahan yang abadi. Karena selama masih ada kehidupan maka akan selalu ada perubahan. Siap atau tidak perubahan selalu terjadi. Seperti hidung kita, bau apapun akan masuk kedalam hidung kita dengan natural. Dan hidung juga akan imun dengan bau asing, lalu terbiasa.

fasilitas asrama tpb ipb

kondisi lemari di kamar asrama C1 101 saat bersiap untuk pindah dari asrama ke kosan.