dari dalam jendela

Siang ini suara burung besi berderu di bawah langit yang cerah malu-malu, helikopter kita sebut burung itu. Tak tahu pasti tujuannya, mungkin memantau mobil-mobil pembunuh, iya pembunuh dokar atau delman di marga raya. Memantau mobil-mobil yang jadi kerumunan semut di atas aspal legam panjang membelah bumi. Di kota ini sesak dengan kaleng-kaleng pengangkut manusia, kemacetan yang menjadi upacara rutin saat matahari belum tinggi sampai matahari sudah tidak tinggi. Manusia bergerak menjemput dan menggondol mimpinya. Kota ini kota ‘tanpa kecemasan’ iya kota ini kota ‘aman tentram’, dulu kata tuan dari holland.

Tiap kepala cemas dengan isinya, atau cemas ingin mengisinya. Tukang sayur di pasar masih cemas dengan dagangannya dan harga pasar yang membusuk, busuk seiring kubis petani yang gagal panen. Ada juga manusia yang isi kepalanya mengatakan, “saya intelek”. Mereka sibuk dengan lembaran tipis pohon diperkosa tinta. Menyembah angka, menyembah predikat, dengan kaki gatal yang ingin menggaruk tanah orang asing. Katanya belum hebat kalau belum pernah ke tanah milik orang itu. Maka mereka sebut TOEFL itu sayap mereka. Entah apakah si tukang sayur butuh TOEFL mereka yang menyembah predikat. Ada juga si mata satu, bukan dajal atau setan. Tapi mereka yang sempit dan hanya melihat satu lembah gunung permasalahan, hanya dari sisi mereka.

Ketukan pintu kamar alihkan kecemasan di kepala saya saat menulis tulisan ini. Tulisan yang sok tahu mungkin. Saya lebih tahu apa yang harus saya lakukan sekarang. Menutup catatan dan mata yang dangkal lalu membuka pintu kamar dan fikiran saya.

 

*terbesit menulis setelah membaca status fb dari seseorang