Tags

, ,

Pagi buta di hari Selasa, 14 Februari 2012. Gue bangun lebih pagi karena ada hal yang sangat penting. Apa? APEL PAGI ASRAMA! Gue mahasiswa IPB tingkat 1 yang artinya masih wajib asrama selama 2 semester awal. Apel pagi emang gak penting-penting amat menurut gue, tapi gue harus ikut apel ini karena udah sering bolos apel pagi. Dan terancam dapet Surat Peringatan Hehe.. (jangan dicontoh)

Oke gue emang sering bolos, dan oke apel itu diabsen untuk penilaian IP asrama. Dan (lagi) kabarnya asrama masuk SKS.

Tapi gue gak setuju dengan itu, asrama masuk SKS tapi penilaiannya belum jelas apa. Kalau cuma dari absen aja, akan ada kecurangan seperti titip absen. Ada banyak hal yang lebih penting dari sekedar absensi/atendensi acara asrama. Yaitu proses, saat-saat kita beradaptasi, bersosialisasi dengan teman asrama, tenggang rasa, toleransi, saling bantu, peka dan lain-lain. Contoh: Angkatin jemuran temen yang keujanan waktu ditinggal kuliah ; Belajar bareng ; Rawat temen yang sakit ; dan banyak lah. Hal-hal tadi lebih penting dari sekedar baris di lapangan pagi-pagi cuma buat dengerin pengumuman yang biasa-biasa aja atau pembina apel yang gitu deh, menyanyikan lagu mars asrama dengan fals, berebut isi absen.

***

Pagi itu gue gak inget, sama sekali gak inget kalau hari itu adalah tanggal 14 februari 2012 dan gue juga ga inget kalau tanggal segitu (kata orang non-islam) adalah hari valentine. (soalnya gue suka ketuker antara tanggal 12 atau 14 atau 16 februari, ah ga peduli)

Loh, anehnya pagi itu gue malah jadi sadar/inget kalau itu adalah hari valentine gara-gara isi amanat dari si pembina apel. Di depan peserta apel dia menghimbau agar kita menjauhi perayaan valentine. Oke, sebagai muslim gue anggap benar, tapi apa semua peserta apel itu muslim? Sesuaikah tempat, objek, dan waktunya? Opini anda?

***

Gue salut dengan “hari menutup aurat internasional” yang digelar di hari valentine. Gue melihat ini sebagai upaya untuk memotivasi umat muslim menjadi muslim yang benar-benar muslim. (yah begitulah, saya bukan ahli agama).

Inget kasus “miyabi ke indonesia”? ada ormas yang menolak dengan keras kedatangannya, dan pasti kejadian itu diekspose media. Nah, semakin ditentang semakin diekspose oleh media, dan tentu semakin banyak yang tau (atau yang gak tau jadi mencari tau) tentang si miyabi. Yah itu, semakin dibakar semakin besar, semakin besar semakin tersebar, semakin tersebar semakin banyak yang terbakar.

Begitu juga dengan valentine, kalau memang haram yah tinggalkan. Semua harus tinggalkan, jangankan merayakan bahkan mengingat aja jangan. Kalau valentine terus dibahas, makin banyak orang yang baru tau kaya dari anak kecil gitu kan. Lupain aja, atau kalau mau menutupi keburukan dengan kebaikan itu lebih baik.

Ahh… Entahlah…

Masih banyak aja yang cari keuntungan dari setiap momen, kalau valentine gini yang cari duit yah tukang coklat, bunga, hotel, atau penjual kondom. Sebobrok ini kah? Ini masalah agama? moral? ideologi? atau ekonomi?

lagi-lagi…. Entahlah…

*Ditulis dengan keadaan setengah sadar dan sangat sok tau