Tags

,

AYAH, atau gue sebut dia “Bapak”, beliau adalah salah satu orang yang jadi inspirasi gue di dunia ini, secara langsung dan gak langsung.

Dibandingin dengan pelajaran formal yang gue terima dari TK sampe gue hampir lulus SMA sekarang masih lebih banyak pelajaran kehidupan yang gue pahami dari bapak.

Dia yang ajarin gue duduk, berdiri, lari waktu gue balita. Dia yang ajarin gue mengambil sikap, pilihan, keputusan dan mengerti banyak masalah yang ada di luar sana yang belum gw mengerti saat gue remaja sampai sekarang gue belajar menjadi dewasa.

Satu kisah yang gak bakal gue lupa dari bapak, jadi gini (pasang muka serius)….

Perjuangan bapak untuk keluarga, disaat dia memilih, memutuskan dan bertindak.

Dulu bapak dan ibu gue tinggal di desa kecil di kota pinggirian (makin kecil aja), mereka tinggal bertiga sama kaka cewek gue yang lebih dulu berojol sebelum gue. Bapak yang waktu itu masih jadi kerja kecil-kecilan dan bantu-bantu pekerjaan kakaknya yang gue panggil Wa Haji. Karena sikap bapak yang rajin, dia diajak ke tempat tinggal wa haji untuk dicarikan kerja yang lebih layak. Dan bapak atau ayah gue yang tamatan STM/SMA dapet kerjaandi Dinas PU.

By the time bapak udah punya anak yang kedua, seorang anak laki-laki, yaitu gue dan di beri rumah oleh tempat kerjanya dipinggiran kota. Tapi bapak harus kehilangan pekerjaannya yang dia rintis dari bawah sekali, bukan karena korupsi atau perbuatan busuk. Bapak ditawari naik jabatan dengan sarat kuliah dulu, dan bapak lebih memilih mundur dari pekerjaannya dia lebih memilih bekerja wiraswasta dari pada kuliah. Dia mendirikan CV milik dia sendiri, cukup berani buat seorang yang baru dibidang itu. :’)

Dan waktu pun menjawab dari keputusan bapak, dia bisa menyekolahkan satu anaknya sampai lulus kuliah, dan gue yang sekarang duduk dibangku SMA, dan adik gue kelas 5 SD. tentu dengan dukungan dan bantuan Ibu.🙂

Gue kagum dengan keberanian bapak buat mengambil keputusan untuk “bebas” dari tuntutan dan lebih memilih hal yang dia suka dan mengerjakan apa yang dia suka (dia gak suka kerja kantoran, diatur atasan pulang pergi diatur jadwal). Dan hasilnya jika ada niat, usaha dan ditambah nilai plus “SUKA” pada pekerjaan akan membuahkan hasil yang manis. Walaupun bapak gak menjadi seorang milyarder atau orang kaya yang bisa membelikan anaknya mobil-mobilan pribadi.

Buah gak bakal jatuh jauh dari pohonnya, sama kaya gue (pernah jatoh sampe tangan gue patah) yang gak jauh dari sifat “bebas” yang dipunyai bapak gue. Gue paling gak suka sama hal yang teratur apalagi mengikat, pasti mboseni polll….

Bapak pernah bicara ke gue “jangan tergantung sama keadaan, jangan menunggu kesempatan (kerja), tapi kalo bisa buat kesempatan (lapangan kerja) itu sendiri”

Ucapan itu gue denger waktu kita ngobrolin jurusan kuliah gue nanti. Semangat dan gemeter hati gue ngedengernya.

Terimakasih Bapak, dibalik semua ketidakacuhan mu aku tau ada tetes-tetes peluh yang mengalir untuk kami anak-anakmu.