Manners Makan Kacang di Angkot for Dummies

Supir melajukan mobilnya, angin masuk dari sela-sela jendela. Kemudian ada kulit kacang terbang ke muka saya. Kaget. Ternyata si anak sedang asyik makan kacang bersama ibunya. Sampah kulitnya dia lempar ke jendela yang tepat di belakangnya atau di samping saya. Jelas saja sebagian kulit kacangnya terbang masuk kembali.

Cerita di atas adalah kejadian yang saya alami kemarin sore di angkutan umum. Seorang anak dan ibu naik, lalu si anak duduk di samping saya, ibunya saya pangku *eh gak deng*. Si anak berseragam jingga, warna dari SD Favorit di Kota S, SD Klfh, sedangkan si ibu berseragam PNS.

peanuutt

Apa bedanya dengan tupai ini kalau buang sampah aja masih sembarangan? Bedanya tupai ini imut kamu amit! (credit: woowals.com)

Kesal, saya tutup jendelanya rapat-rapat. Si anak cemberut, lalu berusaha membuka jendela tapi gagal. Dengan masih cemberut ia melapor ke ibunya yang lagi asik makan kacang dan membuang kulitnya lewat pintu lebar disampingnya. Kemudian si ibu menyuruh anaknya untuk mengumpulkan sampahnya di kantung plastik hitam. Saya tersenyum puas. Tapi entah kantong plastik berisisi sampah itu akan dilempar kemana.

Saya yakin si anak diajarkan “kebersihan sebagian dari iman” atau “buanglah sampah pada tempatnya”. Tapi ya apa gunanya guru mendidik di kelas tapi orang tua yang tidak acuh? Apa sekolah hanya untuk membuat anak bisa berhitung 1+1=2, mengeja i-ni bu-di, atau bernyanyi huruf-huruf hijaiyah?

Manners maketh man“, Slogan ini memang benar. Sopan santun dan perilaku yang baik membuat kita menjadi manusia yang utuh dan bisa memanusiakan orang lain. Saya bukan orang yang suka terhadap slogan dan jargon. Tapi rasanya¬†¬†kali ini saya seperti disentil oleh si kulit kacang.

aepwjm5_700b_v1